Main Cast:
- Chloë Moretz as Jenifer Devine
- Niall Horan as Himself
- Bella Thorne as Eva Alanna
Author: Renata Gita Nurani
PROLOG:
“Aku membencinya. Dia mengacaukan hidupku. Tapi, aku tidak bisa berbohong. Sejujurnya, aku mencintainya—sangat mencintainya.”—Jenifer Devine
“Aku menyesal telah mengacaukan hidupnya. Aku menyesal telah membuatnya membenciku untuk beberapa saat. Tapi aku beruntung bisa kembali mendapatkan hatinya setelah lama menunggu.”—Niall Horan
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Niall Horan. Kenapa laki-laki itu selalu menjengkelkan? Kenapa dia selalu mengacaukan hariku? Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?” pertanyaan itu itu terus menari-nari di pikiranku. Sekarang aku menatap tajam ke arahnya. Melihatnya saja sudah membuatku ingin mencekiknya.
“keluarkan PR kalian kemarin. Saya akan mengecek satu per satu.” Mrs. Carol menyuruh para siswa untuk mengeluarkan PR yang dia berikan kemarin.
Niall menatapku dan tersenyum padaku. “aku pikir temanku yang satu ini tak pernah mau mengerjakan PR.” Kata-katanya seperti sedang mencemooh. Aku menatapnya dan tersenyum masam sambil berkata, “Ya Tuhan, kau sedang memujiku Niall?”. “kau merasa itu sebuah pujian? Sepertinya begitu.” Sahutnya sambil terkekeh.
Bel istirahat berbunyi. Aku meninggalkan kelas dan berjalan menuju kantin. Tiba-tiba saja pikiran itu muncul lagi. Dari dulu, aku sangat membenci Niall. Entah kenapa, sebenarnya ibu Niall dan ibuku bersahabat. Tapi, tidak untukku dan Niall. semuanya berawal ketika kami masih kecil dulu. Saat Niall bermain di rumahku, dia telah membuat Katty, kucing peliharaanku mati. Bagaimana tidak? Dia memberi makan kucingku melampaui batas dan sepertinya kucingku itu sudah kekenyangan tapi Niall tetap memaksanya untuk makan.
“Hey!” sebuah suara mengejutkanku dari lamunan. Aku menoleh ke sumber suara itu. “Eva!” sahutku ketika mengetahui kalau itu dia. Eva, adalah sahabat dekatku, tapi kami sangat jarang mendapat jam pelajaran yang sama di moving class.
“kau sedang memikirkan sesuatu, Jenifer?” tanyanya. Dia menyodorkan segelas soft drink untukku. “tidak. Aku tidak sedang memikirkan apapun.” Dustaku. “kau yakin? Oh iya, bagaimana perkembangan hubunganmu dan......” aku menatapnya tajam dan langsung bisa menebak apa yang dia pikirkan. “jangan kau menyebutkan nama kau-tau-orangnya. Aku muak, Eva. Dan kami masih sama dengan yang sebelumnya. Kau mengerti?” aku menaikkan alis. “baiklah, aku tidak membahasnya lagi. Nikmati istirahatmu, Sayang. aku mau pergi dulu.” Tukasnya. “kau mau kemana?” sahutku. Dia hanya tersenyum lebar dan meninggalkanku.
Aku dan Eva punya julukan tersendiri untuk Niall. Kau-tau-orangnya menjadi julukan yang tepat untuk Niall.
**
Sudah tiga hari ini aku tidak melihat Niall masuk ke kelas yang sama denganku. Biasanya kami masuk pada kelas yang sama pada 3 hari terakhir ini. Aku penasaran dengan apa yang terjadi padanya. “apakah Niall diculik? Atau dia menjadi korban perampokan? Atau apa?” pikiran itu kembali melintas.
“kau pasti sedang memikirkan sesuatu.” Tebak Eva yang mengejutkanku. Aku menatapnya, “kau tau kalau aku tak pernah melihat kau-tau-orangnya sejak 3 hari yang lalu?” Eva menggeleng tak mengerti. “apakah dia diculik? Atau dia menjadi korban perampokan? Atau apa?” ujarku terburu. Eva menatapku heran, “ada apa denganmu? Bukannya kau membencinya? Kenapa kau tampak khawatir?” sahutnya. “entahlah, tapi aku sedikit merasa berbeda. Biasanya trouble maker itu selalu menggangguku.” Tukasku.
**
“Mom, apa Mom tau kenapa Niall tidak masuk sekolah 3 hari ini?” tanyaku pada Mom yang sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk Dad.
“Niall? dia tidak masuk karena sedang sakit, Jenifer.” Mom masih sibuk dengan masakannya.
“sakit? Sakit apa Mom?” aku makin penasaran. Sejenak, Mom menoleh ke arahku dan tersenyum.
“tidak seperti biasanya kau bertanya tentang Niall. Apa pihak sekolah tidak memberitahu kalau Niall sakit lambung?”
“yang benar Mom?” aku menatap Mom. Ia tersenyum kecil padaku.
“iya. dan nanti sore Mom akan menyuruhmu menjenguknya ke rumah. Kalau perlu kau bisa mengajak sahabatmu, Eva.” Aku langsung terdiam. Bagaimana tidak, aku disuruh menjenguk kau-tau-orangnya. Dan jelas-jelas aku membencinya.
“kau tidak keberatan, Sayang?” Mom menoleh ke arahku dan mengamati perubahan raut wajahku.
“jangan bilang kau masih membenci Niall?” Mom berusaha menebak dan tebakan Mom memang 100% benar.
“mungkin. Sepertinya aku ada acara sore ini Mom.” Sanggahku.
“aku tau kau berbohong pada Mom. Kau masih membenci Niall kan? Ayolah, Sayang. apa yang kau benci darinya? Kalau itu karena kejadian masa kecil kalian, itu sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu kan?” Mom menata makan siang untuk Dad diatas meja.
“tapi Mom, aku masih belum terima dengan apa yang dia lakukan pada Katty.”
“sudahlah. Lupakan masalah itu. Sekarang kau ganti baju. Apa kau sudah makan siang, Sayang?” tanya Mom.
“sudah. Aku sudah kenyang, Mom.” Aku berjalan meninggalkan Mom dan menuju kamar tidurku di lantai 2.
Aku merebahkan tubuh diatas ranjang dan mendengarkan alunan lagu yang menjadi favoritku lewat iPod. Sambil mendengarkannya aku memejamkan mata, mencoba untuk menimbang lagi tawaran yang diberikan Mom padaku—menjenguk Niall.
Tiba-tiba saja ponselku berdering. Sebuah panggilan dari Eva.
“Hello, ada apa Eva?”
“Jenifer. Apa kau sedang ada acara? Aku ingin main ke rumahmu.” Katanya tergesa.
“tidak. Aku dirumah, kau langsung saja menuju kamarku. Aku ada disini.” Tukasku.
“baiklah. Tunggu aku.” Eva langsung menutup telfonnya.
Bel berbunyi. Dari kamar, samar-samar terdengar suara Eva dengan ramah menyapa Mom. Tak lama kemudian aku mendengar derap suara langkah kaki menaiki anak tangga.
“Jenifer, boleh aku masuk?” tanya seorang dari luar.
“masuk.” Sahutku.
“kau tau? Aku sangat bosan hari ini. Sam kembali meninggalkanku.” Keluhnya sesampainya di kamarku. Dengan santainya dia mengambil potato chips yang ada di genggamanku. “ayolah Eva. Sam lagi yang selalu kau keluhkan. Sebenarnya masalah macam apa yang sedang kalian hadapi?” Eva terdiam sambil terpaku menatapku. “sebenarnya itu tidak terlalu menjadi masalah. Menurutku hanya sebuah kesalahan kecil.” Aku meninggikan alis, “terserah. Oh iya, kau tau kalau hari ini Mom menyuruhku untuk menjenguk kau-tau-siapa? Dan aku diperbolehkan untuk mengajakmu.” Eva menatapku lagi. Tapi tatapannya sangat-sangat mengejek. “kau serius? Memang dia sakit apa?” Eva kini tertawa terbahak-bahak. “dia sakit lambung.” Sahutku.
Tiba-tiba saja Mom datang membawa dua gelas limun yang terlihat sangat menyegarkan. “ini untuk kalian.” Ucap Mom sambil meletakkan limun itu pada meja dekat tempat tidurku lalu tersenyum. “Ny. Divine, saya siap menemani Jenifer pergi ke rumah Niall hari ini.” Eva memamerkan senyumannya. Aku menengok ke arahnya dan terpaku dengan pernyataan yang baru saja dia ucapkan. “benarkah? Bagus kalau begitu. Nanti Mom akan siapkan oleh-oleh yang harus kalian bawa untuk Niall.” Mom segera berlalu meninggalkan kami. Aku kembali menatap Eva yang tersenyum gembira. “puas kau sekarang?” gerutuku.
**
Sore hari menjelang. Mom menyuruhku untuk segera menuju rumah Niall. Eva telah bersiap sejak tadi dan sepertinya dia tidak sabar untuk melihatku menjenguk Niall dan mungkin akan mengucapkan kata ‘cepat sembuh. Niall’ langsung dari bibirku. Mom menyuruhku membawa sebuah bungkusan besar yang berisi buah-buahan.
“hati-hati, Sayang!” seru Mom saat aku mulai memacu mobilku di jalanan.
“aku pikir ibumu sudah memberikan sebuah doa restu agar kau selamat saat menjenguknya. Atau mungkin, ibumu mengingatkanmu agar tidak mencelakai Niall. Kau mungkin akan mencekiknya, memberikannya makanan masam, atau bahkan meracuninya?” ucap Eva saat kami mulai menjauh dari rumah. Kata-katanya itu membuatku jengkel. Tapi aku masih berusaha untuk fokus mengemudi.
“sudahlah Eva. Leluconmu itu sama sekali tidak membuatku tersenyum atau bahkan tertawa.” Ucapku datar. Eva terkekeh.
**
Kami telah sampai pada tujuan. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar tetapi punya halaman yang sangat luas. Aku melangkah memasuki terasnya. Sesampainya didepan pintu, aku menekan bel. Tidak berapa lama kemudian, muncul seorang lelaki yang usianya tak jauh beda dengan Niall. Itu Greg Horan, kakak kandung Niall.
“Hy Greg, bolehkan aku bertemu dengan Niall?” Greg menatapku aneh. Tak berapa lama, muncul seorang wanita setengah baya yang menghampiri kami.
“siapa Greg?” tanya wanita itu. Ternyata dia adalah Maura Horan, ibunda Niall.
“Hy Ny. Horan. Senang bertemu dengan anda. Bolehkah saya bertemu dengan Niall?” ucapku ramah.
“Jenifer Devine!” serunya, “Kau ingin bertemu Niall? silahkan masuk.” Ujarnya mempersilahkan.
“kalian tunggu sebentar, aku panggilkan Niall dulu.” Ny. Horan berjalan meninggalkan kami berdua. Greg masih saja berdiri menatapku.
“sejak kapan kau dan Niall berbaikan?” tanyanya heran. Aku menoleh ke arahnya dan mengalihkan pandanganku pada Eva. Eva mengerti kalau aku sulit menjawab pertanyaan dari Greg.
“Jenifer hanya ingin menjeguk Niall sebagai rasa perhatiannya pada sesama. Iya kan Jenifer?” Eva melirik ke arahku.
“ya. Apakah aku salah?” sahutku. Greg hanya tersenyum sekilas lalu meninggalkan kami.
Tak lama kemudian, Ny. Horan datang menghampiri kami, “Niall bilang dia belum bisa menemui kalian disini. Mungkin kalian bisa menemuinya di kamar.” Kata Ny. Horan ramah. Kami melangkah menuju kamar Niall. Terlihat, Niall sedang terbaring lemah.
“Niall, ada yang datang menjengukmu.” Ujar Mr. Horan. Niall hanya bergerak sedikit demi sedikit untuk menoleh ke arahku dan Eva.
“Hy Niall. Cepat sembuh.” Tanpa sadar aku mengucapkan kata-kata itu. Eva menatapku heran begitu juga Niall.
“iya, sama-sama Jenifer. Terima kasih telah menjengukku bersama Eva.” Niall tersenyum memandangku dan Eva.
“maaf sebelumnya. Aku pikir kau masih membenci Niall, Jen. Apa kalian sudah baikan?” tanya Ny. Horan yang otomatis mengagetkanku. Tenggorokanku tercekat, rasanya aku ingin berteriak, tapi tidak bisa.
“kita sudah baikan, Mom. Sudah sejak lama. Iya kan Jenifer?” Niall melirik ke arahku. Aku segera mengangguk.
“iya Ny. Horan, kami sudah berbaikan sejak lama.” Tukasku meski berberat hati.
“baiklah kalau begitu. Berhubung Jenifer ada disini, adakah yang ingin kau minta darinya?” tanya Ny. Horan. Dan lagi-lagi, ini membuatku terkejut.
“aku mau makan Mom. Dan sepertinya, aku mau Jenifer yang menyuapiku.” Tukasnya. Aku kembali terkejut, makin terkejut dari yang sebelumnya. Bisa-bisanya dia memanfaatkan keadaan seperti ini?
Dan dengan berat hati aku menyuapinya. Setelah selesai, aku dan Eva memutuskan untuk pulang. kami berpamitan pada Ny. Horan,
“kapan-kapan main kesini lagi ya Jenifer. Aku sudah lama tidak melihatmu main kesini.” Ujar Ny. Horan.
“ya Ny. Horan, akan aku usahakan.” Tukasku sambil berlalu meninggalkan rumah Niall.
Di mobil, aku masih saja memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Niall memintaku untuk menyuapinya. Apakah dia bermaksud memanfaatkan keadaan? Entahlah, yang pasti karena kejadian itu, Eva menganggapku telah berbaikan dengan Niall.
**
Sudah 2 hari semenjak kedatanganku ke rumah Niall akhirnya dia masuk sekolah kembali, dan kami masuk dalam satu kelas yang sama pagi ini.
“hey, selamat pagi.” Sapanya ramah padaku.
“hey, selamat pagi.” Aku menatapnya heran, namun dia hanya tersenyum.
“terima kasih, waktu itu kau telah menjengukku ke rumah dan juga menyuapiku tentunya.” Niall tersenyum manis ke arahku.
“Niall, kau benar-benar sudah sembuh kan?” tanyaku sambil menyentuh keningnya.
“menurutmu, aku masih sakit?”
“tidak. Kau tidak terlihat seperti biasanya.” Tukasku.
Beberapa hari setelah percakapan itu, kami jadi makin akrab. Eva sampai heran mengetahui hal ini, “kamu ada hubungan sama Niall?” selidiknya.
“hubungan apa, Eva?” aku balik bertanya.
“more than friendship. Do you have special relation with him?” nada suaranya meninggi.
“stop Eva. It’s just a friendship. You’re my best friend right? Trust me!” seruku.
“Okey, aku sepertinya harus pergi sekarang, bye!” ujarnya sambil meninggalkanku.
Aku melangkah gontai meninggalkan ruang kelas, tidak jauh dari sana aku melihat Niall yang berjalan menghampirku. “Hey, kau akan pulang sekarang?” sapanya. Aku mengangguk pelan.
“mau aku antar?” tawarnya. Aku menatapnya sejenak, aku ragu untuk menerima ajakannya.
“ayolah, kau akan pulang dengan selamat. Aku juga tak mau orang tuamu khawatir.”
“baiklah. Aku ikut denganmu.” Tukasku.
“tapi, aku akan mengajakmu menemaniku ke toko buku. Kau mau kan?” tawarnya.
“apa itu memakan waktu yang lama?” tanyaku.
“sepertinya tidak. Kau masih dengan jawabanmu?” dia menatapku. Aku mengangguk saat tau dia tersenyum manis padaku.
**
“Apa aku sudah gila? Aku merasa grogi ketika berada di dekat Niall. Apalagi harus bejalan beriringan dengannya. Apa aku mencintainya?” kata-kata itu berkelebatan di pikiranku. Sekarang aku tidak bisa tidur. aku bingung dengan perasaanku sendiri. Tiba-tiba saja aku merasakan perasaan yang sangat aneh saat bersama Niall. Bukan soal benci, tapi sepertinya aku mencintainya.
Pagi ini aku bangun kesiangan. Dengan langkah super cepat aku meninggalkan rumah tanpa memikirkan barang bawaanku. Pagi ini kelas Mr. Keane, guru paling mengerikan di sekolah. Sekali tertangkap membolos atau tidak mengerjakan tugas, hukuman telah menanti.
Dengan tergesa aku memasuki ruang kelas. Kebetulan, Niall juga satu kelas denganku pagi ini.
“Hey, selamat pagi.” Sapanya.
“pagi Niall.” balasku. Aku duduk disampingnya.
Tak berapa lama kemudian, Mr. Keane datang dan segera duduk di bangkunya.
“keluarkan PR kalian. Saya akan mengeceknya satu persatu.” Teriak Mr. Keane.
Aku membuka tasku. Mencari buku pekerjaanku dan aku tidak menemukannya. Raut mukaku berubah merah padam. Aku takut akan hukuman guru itu. Aku tertunduk, aku ingin sekali menangis dan berteriak soal kecerobohanku meninggalkan rumah dengan terburu-buru.
“kau kenapa?” Niall menyentuh bahuku.
“aku tidak membawa pekerjaan itu. Niall, aku takut kena hukuman.” Tukasku.
“mana pekerjaanmu?” Mr. Keane mendekat pada bangkuku. Aku menatapnya terkejut.
“Maaf, Sir. Saya tidak membawanya.” Mr. Keane menggeleng, “hukuman telah menanti untukmu. Keluar dan temui kepala sekolah. Mrs. Marina yang akan memberimu hukuman kali ini.” Sambungnya.
“baik Sir.” Aku berjalan meninggalkan kelas Mr. Keane. Aku masih merasa beruntung karena bukan Mr. Keane sendiri yang memberikan hukuman, Mr. Keane memberikan hukuman yang lebih berat daripada Mrs. Marina—sang kepala sekolah.
“Permisi Mrs. Marina.” Ujarku ketika memasuki ruangannya.
“Jenifer Devine? Ada perlu apa kau kemari Nak?” sapanya hangat.
“Mr. Keane menyuruh saya datang kemari Mrs. Saya lupa tidak membawa tugas pagi ini.” Terangku.
“pasti untuk pertama kalinya? Baiklah, duduk disitu. Aku akan mengambil beberapa pekerjaanku.” Mrs. Marina meninggalkanku. Tak lama kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintu dan ternyata, orang itu Niall.
“bagaimana kau bisa kemari? Bukannya tadi kau membawa buku pekerjaanmu?” tanyaku.
“aku datang kemari untuk menemanimu. Aku tau pasti hukuman pertama tidak terlalu sulit.” Bisiknya. Mrs. Marina keluar dengan membawa beberapa lembar kertas.
“Niall Horan? Sejak kapan kau ada disini?”
“baru saja Mrs. Marina. Bolehkah saya duduk? Saya juga mendapat hukuman dari Mr. Keane.” Ujarnya. Niall dipersilahkan duduk.
Akhirnya kami keluar dari ruangan itu. Kami medapat hukuman mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan kelas Mr. Keane yaitu Matematika.
“kau mau mengerjakannya bersamaku?” tanya Niall.
“baiklah, kapan tepatnya?” tanyaku.
“bagaimana kalau sore ini?”
“okey. Aku tunggu kau di rumahku. Kita mengerjakannya di halaman belakang. Kau mau?” ajakku.
“okey. Sore ini di rumahmu. Tunggu aku ya?” ujarnya, dia tersenyum ke arahku.
“Ya, aku menunggumu.” Tukasku. Niall meninggalkanku.
**
“Selamat sore Ny. Devine.” Seru Niall saat mengetahui Mom yang membukakan pintu untuknya.
“Niall Horan? Tumben kau kemari, nak? Silahkan masuk.” tukas Mom.
Aku segera berlari menuruni anak tangga menuju pintu utama. Sesampainya dibawah, aku melihat Niall yang tampak akrab berbincang dengan Mom.
“ehm..” dehamanku membuat Mom berhenti berbicara dengan Niall.
“Jenifer, kenapa kau tidak pernah memberitahu Mom kalau Niall akan kemari?” ujar Mom dengan nada mengintrogasi.
“Mom, Niall hanya ingin mengerjakan tugas bersama. Itu saja, dan kami akan mengerjakannya di halaman belakang. Mom tidak usah khawatir, kita tidak akan menganggu urusan Mom.” Tegasku.
“tidak sayang, silahkan kalian mau mengerjakan dimana pun. Mom akan pergi ke kota hari ini. Ada beberapa barang yang harus Mom beli. Jenifer, kau jaga rumah. Mungkin Dad akan pulang larut. Jadi aku minta Niall untuk menemani Jenifer. Bagaimana Niall?”
“siap Ny. Divine. Saya kan menjaga anak anda.” Sahut Niall.
Mom berlalu kedalam untuk mengambil jaket dan kunci mobil. Sesampainya di ruang tamu, Mom memelukku dan mencium keningku, “Hati-hati di rumah.” Lirihnya padaku. Aku mengangguk mengerti.
“selamat bersenang-senang Nak!” teriak Mom. Aku heran mendengarnya begitu juga Niall. kami sempat bertemu pandang beberapa detik.
“Niall, ayo kita ke halaman belakang.” Ajakku.
Kami telah sampai di halaman belakang. Suasana musim panas pada sore hari memang benar-benar cocok digunakan untuk bersantai. Dan aku tidak menyangka akan mengerjakan tugas bersama musuhku! Salah, dia bukan lagi musuhku—tapi mantan musuhku. Kami duduk saling berhadapan disebuah bangku di halaman belakang.
Tiba-tiba suasana canggung itu muncul, kami tidak saling berbicara selama beberapa menit. “kau mau minum apa Niall? biar aku ambilkan.” Ujarku.
“tunggu.” Niall meraih tanganku yang membuatku berhenti beranjak dari kursi. “Aku ingin berbicara padamu. Apa kau masih membenciku?” sambungnya.
Aku menggeleng, sedangkan Niall menatapku tajam seolah dia tak ingin melihatku beranjak dari tempat ini. “kau tau? Aku menyesal ketika kau membenciku. Jenifer, aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti kucing kesayanganmu waktu itu. Justru aku ingin memberinya makan agar dia tidak merasa kelaparan. Agar dia selalu merasa kenyang. Karena aku merasa, kalau kucing itu mati kau pasti akan sedih. Dan tidak sengaja, kucing itu mati karena aku. Aku minta maaf.” Niall menunduk, merasa bersalah.
“kau yakin Niall? kau memang laki-laki yang baik. Aku memaafkanmu. Kenapa tidak dari dulu kau memberitahuku tentang ini?” tanyaku.
“karena baru kali ini saat yang tepat untuk mengatakannya. Oh ya Jenifer, aku membenci diriku sendiri karena itu. Dan harus kau tau, aku mencintaimu. Mungkin ini terlalu cepat untukmu, apalagi kau harus berhadapan dengan seorang ‘pembunuh’.” Niall mendekatkan wajahnya padaku sampai-sampai aku bisa mencium aroma nafasnya.
“Niall, kau ini bicara apa? Katty hanya seekor kucing. Aku sudah merelakannya sekarang. Kalimat pembunuh itu tidak pantas untukmu. Dan asal kau tau kalau aku juga mencintaimu.” Ujarku gugup.
“Would you be mine?” ujarnya.
“I would.” Sahutku.
Niall menempelkan bibirnya pada bibirku, ciuman pertamaku dengan Niall. Dengan alasan mengerjakan tugas, kami akhirnya bersatu sebagai sepasang kekasih. Aku tak pernah berfikir sampai tahap ini. Aku juga tidak menyangka kalau Niall mencintaiku—mungkin lebih awal. Tidak! Terlalu awal.
Aku memandangnya sambil tersenyum. Tiba-tiba dia berdiri dan menggendongku mengelilingi halaman belakang, kemudian dia menjatuhkan diri bersamaku diatas rerumputan. “Niall, I hate you. But, I love you.” aku mencium pipinya. Niall tersenyum padaku dan mencium leherku.
====THE END====
Tidak ada komentar:
Posting Komentar